just another day…

December 8, 2006

Mantan Saya

Filed under: Uncategorized — daysea @ 8:37 am and

Mantan saya pernah bilang,"Love is like a butterfly. When it comes back to you, it’s yours." Waktu itu saya cuman nyeletuk,"Cemen amat neh cowo’…" (Untung dia kagak ngerti bahasa Indonesia huehehehe)

Di lain waktu dia nulis,"Love doesn’t have to end in such kind of marriage." (selengkapnya seh lupa, surat-suratnya saya tinggal di hometown seh…) Tapi yang jelas, kami jadi berantem karenanya. Bagi saya, yang namanya pacaran itu ya buntut-buntutnya married ato malah putus sekalian. Gak usah temenan. Gak usah kenal lagi. 

Bertahun-tahun kemudian -nggak ding belum 2 tahun koq :) -saya ‘ngeh’ maksudnya. Nikah itu cuman masalah pilihan dalam hidup. Sedangkan hidup sendiri adalah pilihan. Mumet ora kowe? Begini lho…

Orang milih hidup ato mati. Kalo pilih mati, ya sudah, selesai! Tapi kalo milih hidup, masih banyak pilihan laen, misalnya mo nikah ato nggak. Kalo nikah, mo punya anak ato nggak. Kalo punya anak, berapa? Kalo gak nikah, mo hidup membiara atau melajang di masyarakat? Kalau hidup di masyarakat, mo tetep hidup sendiri ato adopsi? Kalo mo adopsi, … dst.

Balik lagi ke soal butterfly tadi, masalah ‘kembali’ ato ‘tidak kembali’ adalah pilihan. Sama halnya dengan melepas ato mengikat butterfly tadi. Melepas orang yang dicintai -ups…disayangi aja deh- adalah pilihan. Sama halnya kalo butterfly yang dilepas tadi memilih untuk tidak kembali. Masalahnya, siapkah kita bila ia memilih untuk tidak kembali?

Well, di surat yang lain mantan saya nulis,"Love doesn’t have to end, because love has no ending." So, biarpun gak kembali, gak juga berakhir kan?

December 4, 2006

Maaf, Cinta, dan Pengkhianatan

Filed under: Uncategorized — daysea @ 5:44 am and

Pernah saya bertanya pada ayah seberapa besar rasa maafnya untuk ibu. Beliau diam. Tidak menjawab. Namun kemudian berujar,"Aku ini ksatria. Aku menanggung apa yang jadi pilihanku." (Maklum, ayah saya pernah di kemiliteran) Kalau boleh ungkapan itu saya terjemahkan menjadi, "Besar sekali dan selalu."

Sungguh saya kagum dengan prinsip beliau meski tidak 100% setuju dengan pendapat itu. Kadang saya bertanya apa yang membuat orang selalu sabar dan memaafkan. Karena bodoh? cinta? atau naif? Barangkali yang terakhir… atau malah semuanya?

Seorang sahabat pernah bilang bahwa ada 3 tipe manusia. Pertama, yang akan menutup mata terhadap yang lain selain pasangannya. Boleh dibilang ini makhluk langka. Satu di antara sejuta mungkin! Kedua, yang masih mencari-cari meski sudah punya pasangan. Bukan untuk memiliki, hanya untuk menjajaki lalu kembali ke pasangannya. Terakhir, yang tidak ingin memiliki bahkan selalu mencari dan menjajaki.

Orang bilang yang terakhir tadi yang paling berbahaya. Tapi buat saya, yang kedualah yang paling brengsek. Mengapa? Karena ia berulang kali menyakiti orang yang sama. Lebih celaka lagi kalao objek penderitanya adalah si sabar dan pemaaf tadi. Klop sudah!

Pepatah bule mengatakan: to err is human, to forgive is divine. Tapi kalo terus-terusan? Well, human is human. Divine is divine. Titik. Bukankah semut akan menggigit bila diinjak? (Kalo nggak keburu mati duluan…) Tapi teman saya yang laen bilang,"Kita harus memaafkan 77 kali 7 kali, Des." (Busyet…illahi amat?)

Ngomong-ngomong soal illahi, saya jadi ingat tulisan di pembatas buku pemberian seorang teman 9 tahun lalu: I asked Lord,"How much do you love me?" He answered, "This much." He straightened his arms and died for me.

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.