just another day…

January 26, 2007

Affairs (and infidelity)

Filed under: Uncategorized — daysea @ 11:48 pm and

Tootsie Roll said that love is giving someone the ability to hurt you, but trusting them not to. Trust is an essential element to any relationship. Once that trust has been abused between couple, it takes time to be able to find their way back. We feel emotionally hurt by our partners’ romantic, intimate or sexual affairs. Or perhaps we suffer guilt to our partner following our own acts of betrayal.

Who has affairs? People like us!
- People with opportunity and time
- People who want to punish a partner or past partner
- People with unmet physical desires or emotional needs
- People who want to diminish the intensity or intimacy of a partnership

How do we abuse trust?
a) we are engaging in a physical intimate relationship with someone outside of our current one and/or
b) we are engaging in a mental intimate relationship with someone outside of our current one and/or
c) we have an emotional interest (from the past or present) towards someone outside of our current relationship.

What price is our free lunch?
Some people use internet chat to create an emotional intimacy that they avoid with their partners. Few lunches are really free. The costs may be higher than we expect. Remember, someday, someone we love will pay for our free lunch!

Infidelity is a dark shadow of partnership. Affairs can provide excitement for the bored, adventure for the restless, and pride for the egotistic. On the other hand, they also provide heartache, guilt, disappointment, shattered dreams, and damaged relationships - especially for the partners.

Probably we could have affairs. Happy partnerships do not eliminate the possibility of infidelity - and may even motivate us (if we are entangled with parents or past-partner) to reduce the emotional intensity of our partnership. But remember, affairs –even passionate affairs– rarely mature into long-term relationships.

Men and affairs
Men often want casual sex for the pleasure of sex. Men may admit or boast that they pretend to be in love to have sex with women. (Many women say that men pretend love as a preliminary for sex.)

Younger men usually seek sexual affairs rather than love affairs. Their primary motivations are physical pleasure, to succeed, to impress friends and/or to gain sexual experience. Older men are more likely to have affairs with women who understand, accept and appreciate them. They may want to gratify sexual desires that they would not ask of a decent woman.

Men who are emotionally bonded to their mothers are likely to have affairs to avoid or to sabotage a committed partnership. They are also likely to boast to their (mother-bonded) male friends about the number and variety of their sexual adventures.

Reasons for intimate or sexual affairs
We may say that affairs merely fulfill our needs, and help us avoid feeling lonely or bored. We may justify affairs with: “I want …
- excitement and adventure
- to seduce or be seduced
- to rescue or help someone
- new or unusual sexual experiences
- to feel desirable or sexually potent
- to fulfill an impulse or compulsion
- to defy my social, religious or parental rules
- to enjoy love, intimacy, and companionship
- to enjoy sensual pleasure and sexual release

After affairs and recovery
Romantic affairs have strong emotional consequences, which may be delayed until an affair is over.
Blame: Following exposure, the partners may energetically and uselessly argue about topics such as “Who really caused this?” or “Why did you make me do it!”
Denial: Many people who choose sexual affairs will deny and lie about their actions if the truth may bring immediate unpleasant consequences.
Grief: The suffering of betrayal, broken dreams and shattered love may be overwhelming to the betrayed person. Suicide attempts may follow an affair.
Guilt: The betraying partner, the betrayed partner and the “third person” carry burdens of guilt. This guilt may be immediate or delayed. Delayed expressions of guilt can manifest as anxiety, depression, hypochondria and psychosomatic disease.

What next…?
If we really regret it and promise that it will never happen again or won’t let it happen in future time… for our last chance:
- Do NOT become involved with another person if we are currently committed to someone else.
- Don’t bend the situation to justify our actions, e.g. blaming our partner (you never listened to me, but she did!; you are arrogant; you always underestimate me; you never respect me; etc)
- If the person we are with expects us to be with only him/her, then do that!

If we become interested in someone else:
- Cease all contact with them until we have resolved the problems with our current relationship.
- Find out why our interest towards our current partner has waned.
a. Are we spending enough time with each other?
b. Are we looking for an escape or a start over type relationship because of too much bad history?
c. Has an outside interest allowed us to think less of our partner?
- Decide whether this is repairable.
a. Have we talked about our problems?
b. Can we find a solution through an outside source?
If repairable, do what is necessary to properly fix our current problems and take measures to avoid them from happening again.
If not repairable, leave our current relationship.
a. Do not see the person we were interested in for at least 30 days after we are in our own again.
b. If we still feel we may be truly interested in starting a relationship with this person make sure we take things slowly and that we have truly discovered what factors contributed to the demise of our previous relationships. We don’t need to keep making the same mistakes repetitively.

(taken from www.loving you.com, www.systemiccoaching.com, and self-experiences :D)

January 23, 2007

H E L M

Filed under: Uncategorized — daysea @ 6:19 pm and

H E L M. Satu kata yang terdiri dari 4 huruf. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia-red), helm berarti (1) topi pelindung kepala yang dibuat dari bahan tahan benturan (dipakai oleh tentara, anggota barisan pemadam kebakaran, pekerja tambang, penyelam sebagai bagian dari pakaian, pengendara sepeda motor, dsb); (2) topi gabus (pada umumnya berwarna putih. Yang saya maksudkan di sini adalah pengertian pertama, fungsi kelima.

Saya punya cerita soal helm. Pernah satu kali saya dan sahabat pergi ke hypermart. Pas mo pulang, baru kami nyadar kalo helm sahabat saya raib. Meski bukan barang baru, helm itu lumayan juga harganya. Merknya lumayan bagus sih! Akhirnya, saya pinjamkan helm saya padanya sambil berharap tidak ada polisi yang melihat saya boncengan tanpa helm, atau setidaknya ia menyangka kepala saya ini mirip2 helmlah :P Maklum, udah malam…

Ada kisah di hometown saya. Satu hari, 2 orang boncengan motor dan dikejar polisi karena yang duduk di belakang gak pake helm. Mereka masuk ke taman makam pahlawan. Polisi itu terus mengejar. Ketika 2 orang itu papasan sama pengejarnya, si polisi cuma bisa bengong karna tiba2 mereka berdua sudah pake helm. Merasa aneh, ia menghentikan mereka dan ternyata… helm yang dipake si pembonceng tak lain adalah helm tentara yang biasa diletakkan di atas nisan taman makam pahlawan!

Ada banyak model helm. Dari helm biasa harga belasan ribu yang biasa dipakai pekerja proyek (lazim disebut helm ‘ciduk’) sampe replika helm yang dipake pembalap motoGP yang harganya selangit. Yang terakhir ini pun banyak macamnya. Sebuah toko online menawarkan replika helm Rossi seharga 500 ribuan dengan merk A. Toko lain menawarkan benda yang sama dengan merk berbeda dengan harga 750 ribuan. Tergantung kantong, mo pilih yang mana.

Lepas dari harga dan merknya, saya mempertanyakan fungsi helm itu sendiri. Mengutip pengertian kamus di atas, helm berfungsi melindungi kepala dari benturan. Dengan pertimbangan ini, orang membeli karena kebutuhan (tentu helm itu adalah helm yang sesuai standar yang disyaratkan peraturan). Tapi jika pertimbangan membeli didasarkan pada harga dan modelnya, fungsi tadi pun bergeser ke harga diri. Kok bisa to?

Begini, motor itu benda primernya. Kalo sudah ada motor, orang ingin bahkan kadang harus melengkapinya dengan benda sekunder: helm (wajib sih, sesuai peraturan lalu lintas, kalo gak ingin ditilang), jaket, body protector, sarung tangan, masker, kemudian merembet ke modifikasi motor, mesin, dll. Pertama, orang membeli karena memerlukannya. Jika pertimbangan membeli itu lebih didasarkan pada ‘ingin memilki yang lebih dari yang sudah ada’, maka pertimbangan ‘fungsi’ tadi bergeser ke ‘fashion’ yang dekat dengan pengakuan (rasa wah, kebanggaan, decak kagum) yang bermuara pada harga diri. Hal yang lumrah.

Bagi saya yang termasuk ‘arogan’ ini, kelak kalo saya sudah punya motor dan ingin beli helm, saya memilih membeli helm yang mahal sekalian karena saya (masih) percaya ‘ada harga ada rupa’ (meski tidak selamanya benar bahwa kualitas ditentukan harga). Dengan catatan: motor yang seandainya saya miliki itu bukan ecek-ecek (CBR bolehlah… :P), dealer gak ngasih bonus helm yang sesuai standar UU Lalu Lintas, dan saya (masih) punya duit untuk membelinya :D (kalo gak habis duluan buat beli motornya hihihi…). Saya gak terlalu pusing soal harga karna seperti orang bilang ’segala sesuatu yang masih bisa dibeli dengan uang itu murah …termasuk harga diri! Dan saya ingin menakar harga diri saya sendiri atas sebuah helm.

Soundtrack buat hari ini

Filed under: Uncategorized — daysea @ 3:51 am and

Gak tau kenapa saya lagi demen lagu jadul ini. Bukan mulai hari ini aja lho, tapi udah sejak beberapa hari lalu, sumpah! Mungkin bener juga kata orang bilang perempuan itu punya ’sixth sense’ yang kuat. Tapi saya juga gak mau kalo terlalu kuat. Bisa2 kejadian yang saya ceritain kemaren itu terulang lagi :) Gak mau ah…!!!

Yang jelas, ini lagu lagi saya suka banget. Bagi yang suka …nikmati aja! Yang gak suka? Harus suka…huehehehe…

Sungguh aku tak mengerti kau ingkari janjimu
Aku tak kan sanggup lagi menerima kepedihan ini

Sudahlah aku pergi untuk apa menunggu janji yang tak pasti
Biarlah kusendiri akan kubawa kepedihanku

Angin dengar kata hati nyanyian duka semesta
Bawa ke dalam damaimu disini duka kudapati

Sudahlah aku pergi untuk apa menunggu janji yang tak pasti
Biarlah kusendiri akan kubawa kepedihanku

Sampai kapan hidupku begini
Kepalsuan semakin merajalela
Kasih sayang kehilangan makna
Semua menjadi percuma

(Hehehe…jadul banget kan? Lagu ini saya denger pertama pas saya masih SD mungkin. Yang nyanyiin Achmad Albar dengan model rambutnya yang khas saat itu -sesuatu yang saya benci dulu, sekarang dan selama-lamanya. Judul albumnya seh lupa, mungkin ada yang bisa bantu?)

January 11, 2007

Sampai kapan?

Filed under: Uncategorized — daysea @ 4:48 am and

Berbulan-bulan lalu, suatu malam, saya terpekur di meja kantor memelototi layar monitor. Tiba-tiba, karena kebesaranNya, saya mengalami kejadian yang sebenarnya -jujur- biasa saja (tapi saat itu tidak bagi saya dan mungkin juga bagi orang lain).

Dua belas minggu lamanya saya terlupa dan melupakan kejadian itu. Setelah saya pulang ke habitat asal …eeeh (di)inget(in) lagi. Ntah karna iseng ato emang ingin tau, masih saja ada orang nanyain. Entah mengapa ingatan mereka terpancang akan kejadian itu. Dan saya sendiri pun belum menemukan jawabannya.

Saat saya nulis ini, di bioskop-bioskop tanah air sedang beredar film tentang ’sialan’ itu. Orang-orang (terutama di habitat saya) ramai membicarakannya meski buntut-buntutnya ngeledek juga “nonton anu yuk…gw bayarin deh!” Huh, jangankan cuma dibayarin, dibayar pun saya ogah…

Kalo saya ingat-ingat lagi kejadian itu (jujur, sebenarnya saya males ngelakuin ini) reaksi pertama yang muncul adalah kaget, bukan takut. Kekagetan itu mendorong saya ambil langkah seribu dan pada akhirnya saya akui: saya takut. Menurut para ahli psikologi, rasa takut adalah perasaan negatif yang timbul akibat teridentifikasinya sebuah stimulus (misalnya bahaya). Rasa takut ini seringkali diikuti dengan adanya perubahan fisiologis, kognitif, dan tingkah laku (Kleinknecht, 1986).

Keberanian muncul bukan karena ketiadaan rasa takut. Keberanian timbul karena adanya kemampuan mengelola rasa takut. Mengelola rasa takut tidak bisa dilakukan dalam semalam. Perlu investasi waktu, tindakan konsisten, dan komunikasi. Sayangnya, investasi waktu saya yang 12 minggu tadi serasa sia-sia saat tindakan ‘ngingetin’ yang konsisten melalui komunikasi ’sapaan’ tadi masih intens dilakukan :D Duuuh…sampai kapan?

January 5, 2007

Jam segini

Filed under: Uncategorized — daysea @ 1:41 am and

Sudah hampir 2 minggu saya bertahta di meja ini. Meja yang 2 minggu lalu saya dapati dalam keadaan bersih dan rapi, kini penuh tumpukan kertas dan tebaran buku. Kembali seperti dulu lagi. Tetua saya bilang, “liburan sudah berakhir.” Liburan? Nggak juga… Tapi sekolah juga tidak (padahal asli lho di visa saya tertulis ’short term student visa’).

Masih segar di benak saya kalo jam segini tuh saatnya Communication Skill class. Isinya ngobrol apa aja sesuai dengan tema yang diberikan. Yang penting ngomong. Ntah belepotan ntah grammatically correct, pokoknya ngomong. Sebenernya saya paling anti kalo disuruh ngomong. Meski kata temen-temen saya termasuk biang kerok kericuhan, tetep aja males kalo disuruh ‘berbicara’. Walhasil, saya lebih sering menjelajah dan berpindah dari satu tube ke tube lainnya. Toh, hanya dengan 80% attendance, certificate udah di tangan :D
Dulu pas di sono saya sering berkhayal nikmatnya duduk di belakang meja sambil meletakkan muka di bantal babi seusai makan siang. Bangun-bangun bikin segelas chococino. Uueennaakkk tenan! Tapi sekarang saya malah membayangkan asyiknya menelusuri Oxford street, memandang Marble Arch sambil menenggak medium peppermint mocca. Pulang ke rumah menjelang gelap…pukul 5. Istirahat sejenak. Mempersiapkan fisik dan beranjak menikmati ‘dunia lain’.

Manusia emang gak pernah puas. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Apa daya, masa hibernasi saya udah berakhir memang. Dan jam segini, kini, saya harus menghadapi kenyataan: menelaah seonggok kertas yang nasibnya jelas-jelas berakhir di paper shredder.

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.