Pelajaran hari ini: peribahasa
Kawan,
hari ini aku ingin bercerita tentang peribahasa.
Pernahkah kau mendengar kisah tentang seorang anak gembala yang suka berbohong? Si anak gembala yang merasa bosan ketika menggembalakan kambing-kambingnya itu tiba-tiba menjerit-jerit minta tolong. Dia berteriak-teriak bahwa ada seekor harimau yang hendak menerkam dirinya dan kambing-kambingnya.
Orang-orang pun berlarian ke luar desa, ke tempat si anak gembala tadi berada. Namun, yang mereka temui hanyalah sekawanan kambing yang sedang merumput dan si anak gembala yang tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan warga desa. Mereka pun tersadar, rupa-rupanya harimau itu hanyalah khayalan si anak gembala. Dan mereka telah menjadi korban keisengannya. Di lain waktu, si anak gembala itu pun mengulangi keisengannya tersebut. Dan sekali lagi, warga desa pun tertipu dibuatnya.
Suatu hari, ada seekor harimau yang mengancam keselamatan si anak gembala dan kambing-kambingnya. Seperti dulu, dia pun berteriak-teriak minta tolong. Malang baginya, tak seorang pun menghiraukan teriakan itu. Keesokan harinya, penduduk desa menemukan si anak gembala tewas terkoyak cakar dan taring harimau.
Taukah kau, kawan, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya?
Begitu mahalnyakah arti sebuah kepercayaan? Dewi Sinta harus menerjunkan diri ke api untuk membuktikan kesetiaan dan kesucian yang dijaganya kepada Sri Rama, sang suami. Bahwa dia tak tersentuh sedikitpun oleh Rahwana meski saat itu dia berada dalam genggaman si Raja Alengka. Hanya demi pembuktian sebuah kepercayaan. Meski akhirnya terbukti bahwa kesucian Sinta masih utuh, rasa enggan untuk bersanding kembali dengannya sudah hinggap di hati Sri Rama. Kecurigaan terhadap Sinta akan terus bertahta di dalam hatinya. Maka Sinta pun memilih pergi. Dia memutuskan untuk menyepi dan mengasingkan diri, hingga akhirnya terkubur dalam gempa bumi… *)
Kejujuran dan kesetiaan itu mahal harganya. Ketidakjujuran, pengkhianatan, dusta, kebohongan, perselingkuhan, manipulasi, dan semua yang melawan kepercayaan –meski baru berupa syak wasangka– harus ditebus dengan hidup, darah, air mata, duka, luka, dan pilu. Rasa curiga dalam diri manusia tak akan bisa pergi selama pembuktian masih belum meyakinkan. Dan itu tidak cukup hanya dengan untaian maaf, belaian sayang, isakan tangis, kecupan mesra, rentetan janji, pun darasan doa. Sebab itu, kawan, ingatlah: sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.
*) RAVANA TATTWA meski banyak versi berbeda ![]()