just another day…

June 14, 2007

Agama dan Iman

Filed under: Uncategorized — daysea @ 2:28 pm and

Satu saat pas harkom, romo bilang, "Kalian ini punya agama tidak punya iman." Nah lho…dosa apa kami gerangan? Di lain waktu romo bertanya, apa beda agama dan iman?

Sering pertanyaan itu terlontar. Dan sering pula kami menjawab benar. Namun, jawaban hanyalah jawaban. Jangan berpikir bahwa "apa yang keluar dari mulut itu keluar dari hati". Tidak selalu begitu.

Banyak orang punya agama. Tengoklah KTPnya. Jarang bagian itu dikosongi. Kolom "golongan darah" bisa jadi. Tapi kolom "agama"? No way! Bisa2 dicap "komunis". Lihatlah tempat2 ibadah. Masjid akan full-booked terutama bulan puasa. Gereja penuh sesak, terutama natal-paskah. Mereka punya agama. Tapi saya sangsi, apa semua umat beragama -termasuk saya- punya iman?

Temen saya seorang muslim taat. Keluarganya semua haji. Ia khatam quran sejak SD. Tapi soal kelakuan jangan tanya. Sampai2 guru agama nyeletuk kalo gak pantes ia menyandang nama besar Nabi. Dikhawatirkan kualat.

Temen saya yang laen sama anehnya. Ia rajin salat. Kalo urusan ngaji saya gak tau. Lebih sering saya mergokin dia baca buku ketimbang pegang quran. Namun, toh, salat tidak menjauhkannya dari perbuatan keji dan munkar.

Si anu laen lagi. Soal alkitab ia jagonya. Maklum, anak pendeta. Sayangnya, firman Tuhan juga belum cukup kuat jadi pegangan. Lebih milih megang2 anak orang!

Waktu si Y masih di biara, sempet juga ia digebet lawan jenis. Sesama kaum klerus pula. Jangan heran kalo di benak saya "klerus=kleru terus" (keliru terus). Hebatnya, si Y masih teguh kukuh berlapis baja untuk bilang "nggak". Meski gak berapa lama kemudian ia keluar dan bilang ingin punya pacar. Weleh…weleh…

Saya jadi bertanya2: apa itu agama, apa itu iman? Jujur, saya bukan penganut agama yang taat. Keimanan saya pun patut dipertanyakan. Saya sadar, saya gak lebih baik dari beliau2 di atas. Justru karna ketidaksempurnaan saya itulah, saya bertanya.

Di balik indahnya nama, terkandung makna. Saya yakin, tak ada orang tua yang asal2an memberi nama anaknya. Semua berharap bayinya kelak tumbuh jadi orang sesuai nama yang diberikan. Sesuai harapan orang tua yang tersirat dalam untaian nama. Sayang, terkadang yang terjadi adalah sebaliknya. Nama tinggallah nama. Hanya untaian kata. Benar kiranya Shakespeare bilang, " what is a name?"

Lalu tindakan. Apa yang jelas2 dilarang tidak serta merta membuat orang surut dan takut. Masih aja ada yang menginginkan milik sesamanya secara tak adil, entah hartanya, suami/istrinya, atau apanyalah itu. Banyak pula yang bersaksi dusta, bersumpah (palsu?) berawalan "demi…(kian?). Dan banyak lagi.

Lalu, saya kembali bertanya: di mana agama, di mana iman?

Si Zaki dalam Naga Bonar Jadi 2 menyempatkan diri untuk salat sebelum ajeb2. Tentara IRA di Belfast bikin tanda salib dulu sebelum nembak tentara Inggris. Lenguhan "oh God" kerap terdengar di bokep2. Tidak salah Rendra bilang "Tuhan ada di meja perjudian".

Banyak hal yang masih harus saya pelajari. Tapi setidaknya di perhentian ini saya belajar satu hal: yang kasat mata seringkali hanya ilusi. Nama bernafaskan agama, pakaian beridentitas aliran, bukanlah jaminan keimanan. Bahkan kelakuan pun belumlah sebuah cerminan hati.

Bisa jadi yang tampak luar berduri, tapi dalamnya justru enak dan dicari seperti durian. Atau malah tampak luar manis tapi dalamnya pahit seperti buah…ya darat!!!

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.