Sebuah pelajaran…
“Trust no one but yourself…” Begitu bunyi tagline film Mindhunter yang saya pinjem beberapa waktu lalu. Saya jadi ingat pengalaman saya baru-baru ini. Sebuah pelajaran berharga.
Di satu pagi saya membuat Ibu menangis. Satu hal yang belum pernah saya lakukan seumur hidup. Dengan suara serak menahan isak tangis dan amarah, beliau berkata, “Sing uwis yo uwis. Ora usah digetuni. Gusti Allah ora sare. Kabeh ana piwalese dhewe-dhewe. Sapa nandur, ngundhuh. Muga-muga kowe iso nyinaoni sak kabehe iki. Lan tansah elinga, ilat kuwi ora balung. Wong kang ngarah lan wong kang dirah kuwi menang sing ngarah. Mulane kuwi, sing waspada lan ngati-ati.” (Yang sudah ya sudah. Tidak perlu disesali. Tuhan itu tidak tidur. Semua ada balasannya masing-masing. Siapa menanam akan menuai. Semoga kamu bisa memetik pelajaran akan semua ini. Dan ingatlah selalu, lidah tak bertulang. Orang yang mengincar dan orang yang diincar itu lebih siap orang yang mengincar. Karena itu, waspadalah dan berhati-hatilah.)
Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ibu saya benar. Baru saya sadar betapa selama ini saya tidak pernah belajar dari pengalaman. Seorang teman bilang dalam satu chattingannya “Kamu ini pintar, Des. Dalam segala hal. Tapi kamu tidak pintar soal kehidupan.” Ia benar. Saya harus lebih banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. Selama ini saya selalu beranggapan bahwa semua orang itu (pada dasarnya, dilahirkan) baik. Allah menciptakan manusia dengan sungguh amat baik. Ia menciptakan manusia menurut citraNya. Karena itu, bagi saya semua orang itu (berniat) baik. Jikalau ia berbuat jahat, ia hanya khilaf. Suatu ketika ia pasti akan kembali ke jalanNya. Naif sekali. Tidak membumi ![]()
Segala sesuatu yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Orang yang punya niat dan tujuan baik, tidak akan melakukan sesuatu yang salah untuk mencapai tujuannya itu. Kalau sejak awal ia tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah dan ia tetap melakukannya juga, ya sudah…jelas ia bukan orang baik atau setidaknya ia tidak punya niat baik. So simple! Dan logika sederhana inilah yang luput dari benak saya. Bodoh sekali jika kita menisbikan fakta demi imaji.
Lalu, mesti bagaimana? Well, life goes on. Kata Udinese, tidak ada gunanya menyesali nasi yang sudah jadi bubur. Mendingan kita tambahin ayam, kecap dan kerupuk sehingga bubur itu jadi lebih enak dan bisa dinikmati. Buat apa menyesali yang sudah terjadi? Buat apa pula mencerca dan memaki? Toh, semua karena kebodohan sendiri. Jadikan ini sebuah pelajaran berharga agar kelak tidak terulang lagi. Hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama untuk yang kedua kalinya.
Terima kasih Ibu. Terima kasih teman-teman. Saya telah diingatkan untuk lebih rendah hati. Lebih sabar. Lebih banyak belajar. Niat baik tidak selamanya bisa diterima dengan baik. Kadang-kadang kita yang nggak ngapa-ngapain musti bisa nerima kenyataan kalo kita diapa-apain orang. Jangan membalas. Jangan marah. Jangan mendendam. Jangan mencaci. Tidak akan ada gunanya. Lebih baik kita jadikan itu pelajaran berharga untuk bisa jadi lebih dewasa. Karena menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu pilihan…