CBR: Sekarang dan Dulu
Saya pernah sangat menginginkan sesuatu. CBR. Dua tahun lalu saya liat motor itu di Cijantung. Gila…itu motor idaman, man! Cuma 150cc tapi tongkrongannya bak kuda besi Pedrosa. Keren abis. Berhubung warna favorit saya biru, maka CBR biru-hitam itu indah banget. Lagian yang merah-hitam udah banyak yang punya: dari Alfa ampe Supra R. Uhmm…tapi yang kuning-hitam boleh juga. Toh sama2 CBR. Hehehe…gak konsisten.
Tapi itu dulu. Sekarang CBR udah banyak yang punya. Meski prestise impornya masih terasa (bandingkan dengan Satria yang kini diproduksi lokal), CBR bukan lagi motor eksklusif. Liat aja di jalan, banyak kan yang make CBR. Ato itung aja di parkiran Mal Cijantung (yang -katanya- Mal di Jakarta yang paling nggak banget) ada berapa CBR nangkring di situ? Banyak booo…
CBR. CBR. CBR. Tiga huruf yang dulu slalu jadi idaman. Tapi itu dulu. Sekarang? Nggak lagi lah. Slain ada mainan baru yang lebih menarik =)) motor masuk dalam 10 besar benda yang paling saya benci di Jakarta. Mo tau knapa?
- Bikin macet. Pertambahan sepeda motor di Jakarta setiap hari mencapai empat kali
mobil. Sepeda motor bertambah 897 unit dan mobil 220 unit per hari.
Data yang ada menyebutkan pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 9,5
persen per tahun, tetapi penambahan panjang jalan hanya 0,01 persen per
tahun. Kenyataan tersebut membuat kemacetan di Ibukota menjadi
bertambah parah. - Bikin polusi. Saat ini jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta sekitar 5,8 juta
unit. Dari jumlah itu, 5,7 juta unit atau 98,5 persen adalah kendaraan
pribadi dan 86.435 unit atau 1,5 persen adalah kendaraan umum.
Kendaraan pribadi yang jumlahnya 98,5 persen ini melayani 44 pesen
perjalanan, sedangkan angkutan umum yang jumlahnya hanya 1,5 persen
harus melayani 56 persen perjalanan, di antaranya 3 persen dilayani KRL
Jabodetabek. Bisa bayangkan berapa banyak asap yang memenuhi jalanan ibukota tiap harinya? - Bikin tukang ojek makin banyak. Belum ada data yang
jelas, tetapi ribuan bahkan puluhan ribu tukang ojek saat ini
diperkirakan memadati badan jalan di hampir setiap ruas jalan di
Jakarta. Sepintas, motor-motor mereka yang berjajar di bahu jalan
terlihat rapi, tetapi hal itu menyebabkan semakin parahnya kemacetan di
Ibu Kota. - Bikin kredit macet. Kredit konsumtif seperti kepemilikan sepeda motor di Indonesia meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir. Pemberian
kredit yang terlalu mudah adalah penyebabnya. Namun menurut para ahli,
kondisi ini bukan pertanda baik bagi perekonomian Indonesia.Data menunjukkan, mudahnya pengucuran membuat tingkat kredit macet
meningkat. Kredit sepeda motor pada 2007 mencapai Rp 50 triliun dengan
tingkat kemacetan tiga hingga empat persen. Ketika terjadi perlambatan ekonomi, biasanya mulai terjadi kredit macet jenis konsumtif. - Bikin orang lupa diri. Mudahnya kredit bikin orang berlomba-lomba mengambil kredit kepemilikan sepeda motor. Orang tidak memperhitungkan tingkat kemampuannya membayar. Sebagai contoh, rata-rata mereka membayar uang muka satu unit sepeda
motor seharga Rp 11 juta sebesar Rp 1 juta dan angsuran mulai Rp 400
ribu. Namun sebagian orang merasa kesulitan membayarnya. Berapa target penghasilan seorang tukang ojek jika ia dituntut untuk membayar cicilan segitu plus menghidupi diri (dan anak istri)? - Bikin orang jadi belagu
Ini setali tiga uang dengan nomer 5 di atas. Udah nggak punya duit (tabungan kamsudnya), blum tau bisa nyicil nggak…eeh ngambil motor! Dipake nampang pula. Alamakjaaan!
Emang sih saya blum pernah liat ada tukang ojek bawa CBR (gak tau deh kalo ojek pribadi hehehe). Yang jelas, biaya perawatan dan bahan bakarnya mahal dan (mungkin) gak nutup setoran. Itu pula yang bikin saya berkesimpulan CBR emang masih berkelas. Tapi koq saya udah mati rasa ama benda satu ini ya?
So, CBR isn’t my cup of tea anymore dear…